Ternyata yang namanya orang punya jabatan di sebuah institusi, entah itu pemerintahan, entah itu bisnis, entah itu pendidikan, ternyata sama saja, ujung ujungnya duit.
Dahulu sewaktu saya masih SMU, saya pernah mencoba untuk memberikan informasi mengenai pentingnya software legal bagi sebuah institusi, sewaktu itu kedudukan saya masihlah seorang ketua komunitas kecil di Bandung yang berisikan siswa-siswa SMU yang peduli terhadap software yang legal, mulai dari open source, maupun software berbayar.
Disela saya menawarkan pilihan kepada pejabat yang memutuskan software apa yang hendak dipergunakan, pejabat itu menjawab dengan sebuah pernyataan yang menurut saya, tidak sepantasnya dikeluarkan oleh orang yang sudah berumur, “Jika kamu bilang bahwa penggunaan software legal itu penting, buat apa +edited, nama sebuah sekolah+ ini menjadi pahlawan ketika institusi lain termasuk pemerintahan menggunakan software bajakan?”
Dulu memang kegiatan sosialisasi penggunaan software legal belum seperti sekarang, yang blak blakan, dulu masih gerilya, antara user yang belum menjadi prosumer, dan juga administrator yang masih bodoh dan ga ngerti apa software yang dipakai itu dan pejabat yang ngga peduli mengenai hasil karya orang lain yang penting kerjaan lancar.
Saya pikir waktu sudah berjalan dengan cepat dan manusia telah berubah, tetapi yang kadang disayangkan di sebuah institusi masih ada pejabat alias petingginya yang tidak menerima saran, dan juga bahkan menghina orang lain, di depan umum! Bayangkan, terus setelah dikorek korek, ujung ujungnya mengemis meminta dana, bahkan bertanya berapa dibayarnya, sungguh malang Indonesiaku!
Harapan saya terhadap pejabat di negeri ini, cepat cepatlah tobat, saya menaruh harapan yang besar saat ini kepada calon walikota Bandung, Aa Nata, yang peduli dengan kaum kecil, dan juga terhadap penghematan dana dengan open source.



October 3, 2007 at 15:42
Hmmm..ujung-ujungnya duit ya..
Realita aja..uang itu bukan segala-galanya, tapi tanpa uang gak bisa segala-galanya. Emang, susah Ren kalo gak ada uang.
October 3, 2007 at 16:01
@Wildan, kalau ngga ada uang, bisa dicari kok, asal tau caranya, ngga perlu koar koar ga punya duit, muter otak dikit, ketemu kok!
October 3, 2007 at 18:42
ini ada hubungannya dengan entri sebelumnya (cara menanggapi saran)?
October 3, 2007 at 20:06
@kunderemp, ada, dan ramai dimilis gajah aseli
October 4, 2007 at 00:00
kalo complaint jgn di milis “sampah” dong.. langsung aja telpon atau temui orangnya.. daripada buang2 waktu untuk hal2 yang tak kunjung selesai
October 4, 2007 at 09:04
pake open source gak selalu menghemat duit (anggaran) lho..
orang-orang (awam) yang biasa pake windows (baca: proprietary) kan perlu dapet pelatihan juga buat migrasi ke unix (baca: open source).. dan biaya pelatihan buat, contoh aja pegawai Pemda Bandung, kan juga gak sedikit..
October 4, 2007 at 18:59
hidup AA NOTO!!!
October 4, 2007 at 23:07
di sebuah institusi masih ada pejabat alias petingginya yang tidak menerima saran
kalo gak salah, itu disebabkan oleh truth claim dari sang oknum, sehingga yg ada hanyalah pembenaran diri secara mutlak, sedangkan orang lain hanyalah menjadi kebenaran parsial & gimanaaaaa githu loh
October 5, 2007 at 18:16
ya gitulah, hukum dasar kita UUD, Ujung-Ujungnya Duit
October 7, 2007 at 19:34
yah, semoga bisa cepat mendobrak keadaan menuju yang lebih baik. no doubt deh…
October 7, 2007 at 23:13
jangankan pejabat yang sudah duduk diatas sana..lah yang sudah menjadi pejabat tingkat bawah aja sekarang ujung2 nya duit kok..kalo ndak ada duit urusan ndak lancar..
bikin ktp aja kalo duitnya ndak gede bakalan lama jadinya..:D
October 9, 2007 at 04:56
bang…. sebagian OS (Micr… tiiit)PC gw masi pake bajakan.. btw qwords dah lom yach… kira-kira XP yang gak pake box tu sktr IDR 750rebu… Eh kalo PC CEO Qwords gw liat pake Linux tu… hihihihi..
October 17, 2007 at 10:24
yah saya juga mendukung AA nata sunata untuk menjadi walikota bandung, semoga software legal makin berjaya…