October 3rd, 2007

Cara Menanggapi Saran

Hai, kita akan bermain dengan imajinasi, sekarang anda bisa membayangkan diri anda sebagai pegawai rendahan disebuah perusahaan dan anda dipojokkan dengan pertanyaan yang menyudutkan anda, tentunya di sela sela pertanyaan yang menyudutkan itu, pastilah ada yang memberi saran. Saya yakin, ketika anda dalam posisi itu, anda dapat menerima semua saran dengan lapang dada, dan juga mungkin akan mempergunakannya untuk memperbaiki kesalahan dari perusahaan itu.

Akan tetapi, coba anda bayangkan jika anda sekarang menjadi seorang petinggi disebuah perusahaan, dan anda dipojokkan dengan pertanyaan yang menyudutkan anda, dan seperti kasus diatas, ada yang memberikan saran untuk masalah yang anda hadapi. Bagaimana reaksi anda? Menerima saran tersebut, atau malah mencaci maki pemberi saran?

Yang baru baru ini saya alami, memberikan saran terhadap seorang petinggi disebuah perusahaan, tetapi malah anda dihina hina oleh petinggi tersebut dan juga petinggi tersebut mengemis ngemis meminta hal gratisan dengan alasan tidak punya uang, sungguh alasan yang miris, dan tidak sepatutnya dikeluarkan oleh seorang petinggi tersebut. Seharusnya beliau bersyukur diberikan saran, dan juga masukan, bukan malah menghina lalu ujung ujungnya mengemis, mental melayu!

Jika saya menjadi pemilik perusahaan itu, atau orang yang memanage petinggi itu, tentu saya akan memecatnya, karena kerjanya tidak benar alias tidak transparan dan pekerjaannya berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, dan juga telah memalukan perusahaan dengan makiannya.

Bagaimana dengan anda ? apakah anda akan memecatnya juga? Yang butuh kerja banyak loh!, dan yang lebih berkompetensi dari orang itu juga banyak!

PS: Hal ini benar benar terjadi tadi malam! Seorang petinggi dari sebuah perusahaan jasa (profit, bidang pendidikan) di Bandung, dan terjadi di dalam sebuah forum yang diikuti ribuan orang!

21 Responses to “Cara Menanggapi Saran”

anduz says:
October 3rd, 2007 at 10:04 am

ya namanya juga manusia, manusia kalau udah tinggi
lupa menginjak tanah…jadi saking tingginya yang ada di bawah di injek2…

M Fahmi Aulia says:
October 3rd, 2007 at 10:07 am

halah…sudah jadi adat orang Indonesia…
dikritik ogah, tapi banyak ‘minta’ dan ‘mau’nya :p

pecat aza..pecaatt!! :D

wadiyo says:
October 3rd, 2007 at 10:52 am

Anggap saja semua omongan orang yang ditujukan
pada kita sebagai ” BATU”.

kumpulkan terus batu itu,
entar ‘kan bisa untuk membangun rumah atau gedung bertingkat.

Begitulah istilahnya.
jadi jangan risau pada kata-kata orang.

wildan says:
October 3rd, 2007 at 10:55 am

Mungkin perlu belajar juga cara mengkritik atau memberi saran yang baik dan beretika. Saya juga masih perlu belajar.

Salam,

aNdRa says:
October 3rd, 2007 at 10:56 am

Hehehe.. gengsi diatas segalanya, dikasih saran pengennya keliatan lebih pintar. Sayangnya masih butuh bantuan orang lain juga. Hmm.. gak konsekuen ni orang… sabar..sabar… qiqiqi :-P
Memang banyak kok jenis orang spt ini. Lumayan buat bahan ketawaan dan nulis blog ;-)

Fajar says:
October 3rd, 2007 at 11:01 am

kalo indonesia kayaknya terkenal dengan budaya mengkritiknya deh
sama kayak gw juga
suka mengkritik

Budi Rahardjo says:
October 3rd, 2007 at 11:38 am

Jadi saran Rendy apa? he he he. Jadi rekursif gini … hi hi hi

rendy says:
October 3rd, 2007 at 11:44 am

@BR, sudah diposting kok tadi malem, cuman yang diberi saran ternyata seperti yang saya tuliskan di blog ini…

Oskar Syahbana says:
October 3rd, 2007 at 12:01 pm

Cara ngasih masukannya kali yang salah ren. Kadang-kadang sebuah cermin itu perlu juga. Sama-sama belajar saja dueh.

Whew udah lama gw ga ke sini…

Hedwigâ„¢ says:
October 3rd, 2007 at 12:13 pm

Ada beberapa kondisi dimana saran diperlukan. Bagi seseorang yang memiliki tanggung jawab mengambil keputusan, tentu saja saran yang masuk masih harus diolah lagi agar menjadi sebuah informasi atau keputusan yang benar.
Tetapi ada kalanya saran yang masuk tidak sesuai dengan kondisi berlangsung. Dalam hal ini ada beberapa orang akan marah (baiasanya saat dalam kondisi terpepet).
Tidak bisa disamakan antara seorang juior staff dengan sorang senior manager atau VP atau Dirut Sekalian adalah tidak “apple to apple” karena job-desc nya saja memang berbeda.

mbah dukun says:
October 3rd, 2007 at 12:15 pm

hajar bleh. ;))

Rizki Afta says:
October 3rd, 2007 at 12:47 pm

Diskusi tampaknya makin memanas bung.. Bisa jadi lahan bisnis nih, jadi supplier bensin, biar tambah panas..

Hahahaha..

Tk Kiridit says:
October 3rd, 2007 at 1:00 pm

pasti yang ngasih sarannya gak bener, sinis ato tendensius pasti ™

*heheotan*

sawung says:
October 3rd, 2007 at 1:58 pm

*turut memanas-manasi.

pak onno kok ga komen ya?
suruh komen pak onno ren.

Wahyu says:
October 3rd, 2007 at 4:26 pm

hahaha…
Rendy, ini yg dimaksud diskusi kamu dg BSD di milis itb@itb kan?
kalo iya… ancur bener lu Ren… jauh panggang dari api… kayaknya elu suka hal2 yg bombastis ya?

bagi yg lain, sebelum terprovokasi oleh tulisan rendy ini baca dulu arsip di milis itb@itb.

rendy says:
October 3rd, 2007 at 4:42 pm

@Wahyu, baca milisnya jangan sekip sekip

Wahyu says:
October 3rd, 2007 at 9:31 pm

Halah…gak ada yg disekip ren

rendy says:
October 3rd, 2007 at 9:34 pm

@wahyu, udah jelas kok, ada pejabat yang berkata kurang pantas, terhadap sebuah bagian dari institusi dia sendiri… aneh… ko bisa ya?

rendy says:
October 3rd, 2007 at 9:54 pm

@wahyu, dia udah mau ngaku, kalau memang ada kesalahan, cuman omongannya tetep ga mau merendah… nasib jadi rakyat, pejabatnya edan!

Huzz says:
October 4th, 2007 at 11:22 am

jadi inget, lihat cara ustadz Hasan Al-Bana dalam mensikapi pengkritik.Tidak semua harus dibantah kok…
http://perisaidakwah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=46&Itemid=30

rd Limosin says:
October 13th, 2007 at 12:36 am

sabar Ren… sabar…

Leave a Reply