Konon katanya negara ini masih memiliki jumlah pengangguran yang tinggi, karena tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada di Indonesia. Beberapa orang berteriak kepada pemerintah untuk meminta diberikan pekerjaan bagi mereka, padahal daripada berteriak, mending dagang nasi. Ada yang datang dari pelosok nun jauh dimana jika dicari dalam peta pun, alamatnya susah dicari, perlu jasa seorang tukang pos untuk menemukan alamat itu, Bahkan ada yang datang dari tengah kota dan berlabel putra seorang penjabat daerahnya.
Disatu sisi, orang yang memiliki lapangan pekerjaan pun masih harus direpotkan dengan proses seleksi calon pekerjanya. Ketika sebuah posisi pekerjaan dibuka, ratusan bahkan ribuan orang berebutan untuk mendapatkan posisi tersebut, sayangnya dari semua yang banyak itu, tidak jarang kesemua lamaran yang masuk itu ditolak, karena tidak sesuai dengan kriteria, atau surat lamaran yang diajukannya adalah surat bodong.
Banyak Tips Lamaran Pekerjaan beredar di Internet, surat kabar, buletin lowongan kerja, bahkan berbentuk organisasi formal seperti penyalur tenaga kerja, Layanan Karir Kampus, Biro pencari tenaga kerja di Internet. Semua itu dengan tujuan untuk memudahkan pencari kerja, dan pencari pekerjaan untuk saling bertemu dengan kecocokan dan kebutuhan masing-masing.
Agak miris juga melihatnya, yang satu kebingungan mencari pekerjaan untuk bertahan hidup, yang satu lagi kebingungan mencari pekerja, dan yang satu lati kebingungan karena dirongrong terus oleh orang yang ingin bertahan hidup tadi. Terus terang bagi saya hal yang tersulit saat ini adalah mencari pekerja, dibanding dengan mencari pekerjaan, mencari orang yang cocok dengan posisi yang dibutuhkan, dan cocok dengan team yang sudah dibuat, itu mumetnya bisa bikin ngga tidur, meski kadang di posisi saya seperti ini, masih juga sering terlintas pertanyaan dalam diri seperti yang diutarakan Putra. Mungkin hanya 1 jawabannya, saya bekerja pada-Nya dan digaji oleh-Nya.



September 10, 2007 at 10:27
aha, sungguh suatu masalah memang. ini suatu pengalaman pribadi. saya pernah bekerja disalah satu toko komputer, dan kemudian diterima bekerja disalam satu perusahaan. nah saya mencari orang (yang bsia saya bantu) untuk bekerja di tempat yang saya tinggalkan itu. ternyata susah sekali mencari orang yang cocok atau bisa untuk menggantikan posisi saya tersebut.
September 10, 2007 at 11:45
gw juga awalnya bingung. Karena begitu banyak job board di indonesia, tapi kenapa juga masih begitu banyak pengangguran…
yang pertama, masalah tingkat pendidikan. kebanyakan perusahaan (kebanyakan loh) harus orang orang dari S1. Tapi negara kita kan bukan negara yang mengutamakan pendidikan di atas segalanya, jadinya kriteria ini mungkin banyak yg ga masuk.
yg kedua, mungkin pekerjaan itu anggapannya adalah, kerja di kantoran. jadi ketika ada lowongan, banyak orang yang mendaftar.
yang ketiga dan yg paling utama, kemiskinan. inilah kenapa faktor nomor 1 terjadi. karena dia miskin, makanya gag bisa sekolah tinggi tinggi.
ah, pusing… lieur… hareudang…
September 10, 2007 at 12:36
Hello permisi lewat mampir. I’ve googled on something and crash here!
Sebenarnya mendapatkan kerjaan di Jakarta –untuk standar fresh graduate S1 + skill + networking– sih ngga susah-susah amat. Tapi kerja apa?
Kerja kontrak. Kontrak 3 bulanan, 6 bulanan, malah ada yang sampe tahunan diperpanjang. Cuman muter duit aja.
Pegawai tetap biasanya kan dapat “fringe benefits” seperti asuransi kesehatan, cicilan mobil, beasiswa sekolah, etc yang secara praktis lebih bisa menjamin kesejahteraan hidup untuk ke depannya.. Ini mungkin lebih berasa buat yang akan berkeluarga.
Nah sayangnya, yang fresh graduate sekarang pun nyari kerja cuman buat gengsi dan pamer titel. Lupa kalo di kurun waktu tertentu, kontrak saja ngga cukup..
Disitulah kompetensi seorang pekerja, apalagi dari generasi muda sekarang, dipertanyakan.
Kualitas dah memenuhi standar apa belon?
Curhat colongan ceritanya.
September 10, 2007 at 13:06
kalau gua ma asyik-asyik aja,
jalani aja hidup ini,
sudah sulit jangan dipersulit,
ntar jadinya tambah sulit.
yang penting ma berusaha terus
ditambah jangan berhenti untuk belajar.
dunia ‘kan terus berubah dengan cepat.
tulisannya bisa nambah wawasan gue
yang lagi terus belajar dan terus berusaha mendapat pekerjaan yang pas.
September 10, 2007 at 14:10
tapi, bukan berarti jadi enterpreneur ga enak kan ? hihihi.
-IT-
September 10, 2007 at 15:02
@pedhet, memang sulit
@didats, memang pusing
@marisa, pada pengen instan semua sih
@wadiyo, mending dagang nasi :p
@irvan, paling enak jadi orang pas-pasan, pas mau beli mobil ada uangnya, pas mau beli rumah, bisa kebeli…
September 10, 2007 at 18:40
hyahahahaha, jadi inget alur diskusi di milis id-php.
disana ada yang minta minumum D3, tapi malah dijawab saya cuamn lulus SMA doang, dimana dong.
Dan yang jawab gini buanyak banget bok :D.
September 11, 2007 at 11:35
mungkin ada hubungannya:
http://www.feha.web.id/2007/09/11/sulitnya-mencari-mahasiswai-pkl/
September 13, 2007 at 11:35
Kalo buka usaha biro penyalur naker prospek gak yah?
September 14, 2007 at 10:26
Ada beberapa tips yang paling ampuh (MUST SEE), diantaranya:
http://s6.gladiatus.com/game/c.php?uid=65556
September 16, 2007 at 11:14
Whoa….surely it’s a nice post….kan lagi pada lulus2san
wahhh sebaiknya bangsa kita mulai untuk berentrepreneur kan dengan hal ini, salah satu keunggulannya ngak ada istilah PHK , truz jumlah penganguran jadi turun loh…
Arham
http://entrepreneurid.wordpress.com
September 17, 2007 at 12:21
Maap ikut nimbrung, mo dagang nasi uduk, eh daya beli masyarakat kurang. Harga minah naek, harga nasi uduk kaga bisa dinaekin, peyeh deh…
salam kenal.
September 17, 2007 at 13:56
masalahnya di indonesia saat ini title/ijazah masih menjadi syarat utama dalam mencari kerja maupun mencari pekerja, padahal yang lebih penting adalah skill yang sesuai dengan bidang kerjanya
September 18, 2007 at 13:52
ren buka lowongan paan ? bisa di remote ga ? hehehhehehehe
September 22, 2007 at 21:46
benar kata ayahshiva,memang begini kenyataan di indonesia. lebih mengutamakan title ketimbang skill. kayak pengalaman teman perempuan saya. dia di berhentikan koordinatornya hanya karena dia gak bisa diajak tidur. padahal dia seorang pekerja keras dan sangat berkemampuan. padahal koordinatornya cuma tau gangguin bawahan2nya. dan kalo kerja cuma molor di mobil aja, bawahanya yg kerja keras. walah2. parah banget. kalo gw pemilik peusahaan ini. udah gw pecat koordinatornya.
September 23, 2007 at 13:02
ya itu mungkin yang termasuk “Things you don’t learn at SBM”… menjadi pengusaha itu juga proses ren, enjoy nikmatilah. Nanti juga ketemu pola dan jalannya… kalo ketemu. kalo ga? makan-makan ajalah kita minta gawe kerja gaji seabreg-an
kikikiki