Mengubah Kebiasaan

Mengubah kebiasaan adalah sebuah hal yang terlihat sepele, tetapi amat sulit jika ingin kita lakukan.
Saya mengalami kesulitan dalam mengubah kebiasaan, terutama ketika sebuah kebiasaan telah berganti menjadi sebuah kenyamanan, tentunya kita akan merasa ganjil jika kebiasaan kita tersebut tidak kita laksanakan.

Salah satu kebiasaan saya adalah mengecek seluruh account email saya dipagi hari dan membacanya satu persatu. Tentunya terkadang saya tidak bisa mengecek email saya karena keterbatasan akses internet atau waktu yang tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu.

Saya termasuk orang yang rewel dalam memilih cara membaca email, tidak terlalu lazim bagi orang awam membaca email menggunakan cara saya, saya masih menggunakan Pine 4.64 untuk membaca email, terutama email yang disimpan dikampus. Beberapa kali saya mencoba meyakinkan kepada yang berwenang disana untuk tidak mengganti sistem operasi yang sudah baik dan stabil ke windows yang relatif banyak tantangannya dibandingkan menggunakan sistem operasi keluarga *nix

Bagi saya, urusan tantangan dan mengubah kebiasaan merupakan hal yang mengasyikkan, tetapi tidak untuk segi layanan dan reliabelitas urusan bisnis. Terkadang masalah mengubah kebiasaan ini juga bisa disalah artikan oleh orang-orang management yang relatif tidak mengetahui kondisi yang terjadi di lapangan.

Seperti contoh, jika anda terbiasa menggunakan call support center disebuah perusahaan (seperti selular) tentunya anda akan merasa tertantang dengan lamanya menunggu untuk tersambung dengan operator, dan terkadang panggilan itu pun terputus. Bagi management call support center, hal ini merupakan tantangan untuk mengadakan efisiensi pelayanan dan ongkos produksi sambil memantain pelanggan dan mereka terbiasa untuk hal itu, tetapi bagi pelanggan yang terbiasa dengan kenyamanan, ini juga merupakan tantangan untuk mencari perusahaan lain yang bisa memberikan service lebih.

Lain lagi dengan bisnis pendidikan, harga yang tinggi dan fasilitas yang baik, belum tentu menjadi ujung tombak pemasaran dari sebuah bisnis pendidikan, saya lebih suka dengan istilah yang diberikan Pak Budi (BLBL), “semakin naik tingkat, semakin disiksa lo”.
Apa yang saya bayarkan untuk kuliah sebetulnya lebih banyak membayar untuk pengalaman, kuliah masih dalam ambang batas normal, hanya saja bobot penyiksaan untuk pengalaman yang dialami, memang pantas dibayar dengan harga segitu, jadi kalau anda belum siap dengan mengubah kebiasaan anda dan tantangan setiap saat, jangan masuk ke SBM, rugi :p

Lain lagi dengan kebiasaan pribadi, saya terbiasa mengajak seseorang untuk jalan-jalan dan makan bersama, satu bulan lebih terkahir ini kebiasaan itu tidak bisa terlaksana dikarenakan beberapa hal, untungnya orang tersebut sudah satu minggu ini mau untuk menemani saya mengulang kebiasaan itu. Tetapi apa boleh buat, saya perlu dengan kenyamanan juga, belum ada yang bisa membuat saya senyaman itu.

Berat memang mengubah kebiasaan, meski saya selalu ingat perkataan Bu Linda diawal saya masuk ke SBM, “Ubah Mindsetmu!”

Usaha yang saya lakukan saat ini untuk mengubah kebiasaan adalah menggunakan sistem acak, jika biasanya hal yang menjadi kebiasaan itu terjadwal dan tertata, kali ini saya ubah jadwal dan polanya, memang sedikit berat, karena pasti ada yang dikorbankan, tetapi ini sudah menjadi tolak awal untuk berlari menuju titik akhir tujuan.

Tulisan dari Itpin hampir menjadi sarapan saya setiap hari, sedikit banyak telah membantu untuk membangunkan otak yang tidur karena dihadapi kasus-kasus yang serupa dan kebiasaan rutin yang dilakukan. Sedikit liburan sambil kerja sosial pun sudah saya jalani, teman-teman baru dan kasus baru cukup membantu saya untuk mengubah kebiasaan.

Kebiasaan baru yang ditularkan oleh Kuncoro pun akhir-akhir ini mulai menyiksa saya, terlalu banyak minum kopi membuat jam tidur saya hanya sekitar 2-3 jam per hari, mungkin saya harus memadukan antara Koen Way dan Budi Putra Way, menyeimbangkan minum kopi dan minum teh.

Tetapi tidak semua kebiasaan perlu diubah tentunya, banyak kebiasaan baik yang bisa kita pelihara sebagai budaya, atau membuat kebiasaan baru yang baik seperti pergi ke tempat fitness dan berolah raga. Itu sedikit contoh yang bisa saya berikan kepada anda, mungkin terlalu banyak pesan tersembunyi yang harus anda cerna sebelum memberikan kometar di setiap postingan saya di blog, sekiranya anda tidak perlu datang kesini jika hanya membaca tulisan saya dengan cara sekip sekip, hentikan kebiasaan itu!

Bagaimana dengan anda ? apakah anda bisa mengubah kebiasaan yang biasa anda lakukan ? atau anda memiliki kiat-kiat untuk mengisi kebiasaan anda dengan pembaharuan ?

silakan berbagi disini

Categories: Personal

11 Comments

  • Oken says:

    Emang klo di SBM lebih banyak tantangannya yah dibanding yang laen? hehehe..

  • QZoners says:

    Saya juga punya pengalaman serupa waktu bikin warnet berbasis linux. Tapi dengan pendampingan yang rutin ternyata bisa juga. Tapi sayang, sekarang warnetnya udah nggak saya tangani lagi dan kembali diganti windows.. :(

  • Luthfi says:

    silakan berbagi di sini?
    berbagi apaan?

  • wildan says:

    T: sbm itu apaan seh
    J: oh Sbm itu skulah bisnis dan manajemen
    T: oh yang di Itb itu
    J: yap
    T: sbm itu itb bukan sih?
    J: emh… itb bukan yah kayanya cuman numpang doang
    T: numpang tapi kok katanya ada wilayah yang anak itb aja kaga boleh masuk
    J: massa sih sapa yang bilang!
    T: itu saya dapat info dari salah seorang dosen itb..
    J: sapa ya…
    T: eniwey belajarnya sadis ya sampe kata om rendy cuman tidur 2-3 jam sehari
    J: eh kebetulan…kita tanya om rendy jelasnya sbm itu gimana yo..
    T and J: Om rendy-om rendy jelasin dong SBM ituh
    OM RENDY:….

  • Roby says:

    Kalo buat saya kebiasaan hanya hal mekanik jadi tidak perlu dirubah banyak. Misal kebiasaan menulis jurnal; cara menulisnya tidak banyak berubah tapi tentu isi yg ditulis tentu banyak berubah.

    Kalo soal kuliah, memang salah satu tujuan pendidikan tingkat sarjana memang untuk membuat mahasiswa ‘resah’ dan ‘gelisah’ agar dia mampu kritis meskipun terhadap hal yang paling dia yakini.

  • Saiful Adi says:

    berdasarkan pengalaman saya, kebiasaan bisa dirubah kalo ada pekerjaan/aktifitas baru yang lebih menantang, lebih baru dan lebih mengasikkan.

    Sebelum ini saya lebih hoby Chatting kalo ada waktu luang. Saking asyiknya waktu produktif jadi tersitak juga. Sekarang aktifitas baru saya buat ngblog. ternyata bisa merubah kebiasaan chating..

  • Mengubah kebiasaan, berkaitan dengan mengubah cara pikir. Ga gampang dan ga mudah. Apalagi sejalan dengan usia dan sudah merasa nyaman. Jadi, kebiasaan bisa diubah jika cara berpikir kita juga diubah. Simple tapi ribet. Intinya, sejauh mana kita benar2 ingin berubah. Kalo cuma sekedar merasa bosan, saya pikir, ga lam deh pasti kebiasaan itu balik lagi. Tapi kalo kita sadar, bahwa kebiasaan itu membawa dampak negatip. Pasti kita berusaha terus untuk berubah. Good luck Ren.Sukses selalu buat mu.

  • [...] Aggregated from rendy by Asian Blogger Community [...]

  • Lex dePraxis says:

    Merubah selama 21 hari itu adalah kesalahpahaman. Baca selengkapnya di artikel Mitos Perubahan 21-Hari. Salam kenal.

  • alvis says:

    saya mau tanya mengenai beberapa hal……

    arti kebiasaan menurut para ahli, keuntungan dan kerugian mnjlnkan dan tdk nenjlnkan kebiasaan

  • alvis says:

    mohon di balas secepatnya…..

    Tks Gbu

Leave a Reply