aduh…
ya aduh ajah….
ceritanya begini, saya dan teman-teman ngumpul di basecamp wisma w, Gandapura, Bandung, tempat ini cukup strategis, aman dan nyaman untuk mengerjakan tugas kuliah (dan gratis pula). Jadi kami semalaman mengerjakan tugas kuliah, setelah selesai, satu persatu dari kami pulang menuju rumah masing-masing, rekan saya yang terakhir pulang dari sana sekitar pukul 02.30 pagi. Beberapa rekan saya masih ada di ruang tamu dan mengobrol menunggu pagi hari, saat mereka keluar ruangan tamu sekitar pukul 03.00 rekan saya terkejut dan mendapati sepatu sudah tidak ada di tempatnya.
Kontan ia membangunkan saya yang sudah terlelap dan 2 orang lainnya, 2 rekan saya langsung berputar putar komplek dengan menggunakan motor, kami ber 3 di teras saling berjaga, hmmm.. akhirnya tidak ketemu siapa yang mengambilnya. Ah sudahlah, memang harus di ikhlaskan, kami hanya menemukan 2 kaus kaki yang tidak berpasangan, mungkin malingnya buru-buru dan langsung mengambil sepatu itu tanpa lihat kiri kanan dulu. Tetapi tidak menemukan 4 pasang sepatu milik kami.
Yang saya dengar dari keterangan penjaga pada pagi harinya, beberapa saat setelah teman saya yang terakhir pulang (sekitar pukul 2 dini hari) ia melihat seseorang memarkirkan motor di depan pintu gerbang, ia pikir teman kami. halah…. terpaksa pulang pakai sendal, agak juga ruwet mengendarai sepeda motor dengan jarak 8 km menuju kampus dengan menggunakan sandal pinjaman yang ukurannya kecil.
besok kalau tidur disana, di gembok semua pagarnya ah… maklum banyak orang, jadi tidak mungkin di gembok sebelum semuanya pulang. kali ini memang keteledoran kami yang terlalu menganggap tempat itu 99,99% aman dari gangguan maling.
halah….






September 21st, 2006 at 7:50 am
ren beliin gw sepatu sekalian yak:p
Wah beranian maling di komplek kodam. Ditempat gw juga pernah kemalingan sepatu setengah kosan, padahal ini rumah jendeal bintang dua. nekad pisan malingnya.
September 21st, 2006 at 11:38 am
ternyata tempat itu 68% gak aman toh..
September 21st, 2006 at 11:57 am
Duh, pernah kejadian yang sama. Bikin tugas bareng di kamar kos temen. Sepatu ilang di balik pintu. Padahal aku duduk lesehan, bersandar ke pintu itu. Dan, tentu, pulang naik motor 6km pakai sandal japit juga
.
September 22nd, 2006 at 1:18 am
SBM ini memang menimbulkan masalah di ITB, khususnya adalah masalah perbedaan kultur. Untuk masuk ke SBM memang dibutuhkan uang sedikitnya Rp 60 juta. Jadi banyak mahasiswa dan dosen yang melihat bahwa mahasiswa SBM ini borjuis dan kurang bisa berintegrasi dengan lingkungan ITB lainnya. (Untuk diketahui saja, mahasiswa ITB masih banyak yang berasal dari keluarga miskin. Dosennya juga masih banyak yang pas-pasan.) Saya sendiri belum pernah mengalami masalah dengan SBM. Mudah-mudahan tidak pernah. Saya banyak berharap SBM bisa memberikan warna yang positif terhadap ITB (dari sisi bisnis sense), tapi kalau seperti ini kejadiannya. Wah … mungkin sebaiknya SBM dipisahkan dari ITB saja?
(INI COPY PASTE DARI SITUS PAK bUDI rAHARDJO)
tOLONG DITANGGAPI
September 24th, 2006 at 4:38 pm
#4 postingan ini tidak ada kaitannya dengan blog pak budi rahardjo…
September 24th, 2006 at 6:55 pm
Yah next time dibahas saja…
Ada sanggahan atau tidak….
Kalau tidak ada sanggahan..berarti itu benar adanya…
September 25th, 2006 at 6:31 am
#6 next time saya bahas, tetapi tidak di postingan ini. untuk uang sdpa itu benar apa adanya, dan warna positif sudah banyak yang terlihat, bisa dilihat dari kegiatan yang bersifat kesenian dan amal, yang tentunya memerlukan kemampuan untuk memanage dengan presisi.
September 25th, 2006 at 10:46 am
delapan
September 26th, 2006 at 9:19 am
Ati ati is the best
September 27th, 2006 at 6:45 pm
Yah.. sepatu ternyata harus dijaga juga
September 29th, 2006 at 1:12 pm
dingin gak tuh kaki pagi pagi naek motor dengan jarak segitu?
September 29th, 2006 at 8:23 pm
lebih aman memang pagar itu di kunci, namun walau sudah di kunci, jika sial sedang berpihak apa boleh buat. ikhlas kan saja…