Majalah Playboy Indonesia Edisi ke 2
Saya amat beruntung bisa mendapatkan majalah edisi ke 2 ini, setelah hampir 2 jam berkeliling kota ke agen-agen koran yang ada di Bandung, saya mendapatkan 2 buah majalah ini di agen terakhir.
Setelah saya membaca majalah yang memuat sampul depan Amar Doriane ini, timbul rasa iba kepada majalah ini, karena majalah ini lagi-lagi tidak memuat isi berbau pornografi, melainkan mengenai masalah politik (Tibo CS), kebudayaan, dll. Lalu ada rubrik konsultasi, yang dibahasnya pun mengenai cara memelihara ikan.
Jika berbicara mengenai Vulgar, menurut saya lebih Vulgar majalah lain seperti Maxim, FHM, atau bahkan majalah wanita seperti Cosmopolitan dlsb yang membahas mengenai kisah seksual dari wanita cosmopolitan.
Saya terus terang tidak suka dengan cara-cara tidak jantan dari FRONT PREMAN INDONESIA yang mengancam kepada pemasang iklan di Majalah Playboy Indonesia ini, terutama setelah terbitnya Majalah Playboy Indonesia edisi Pertama.
Ketika anda membuka majalah ini, maka anda akan menemukan halaman-halaman kosong yang didedikasikan kepada klien iklan mereka yang loyal tetapi diancam karena memasang iklan di Majalah tersebut.

Bisa anda bayangkan betapa ruginya sebuah majalah yang tidak ada pemasang iklan sama sekali ? dimana pendapatan majalah tersebut lebih banyak dari dari Iklan.
Jika anda seorang yang setuju atau tidak setuju atau bahkan tidak peduli mengenai keberadaan majalah yang kontroversial ini, silakan berkomentar disini, kemukakan alasan anda dengan bijak.
10/06/2006,
Artikel ini dibahas di Global Voices Online dan News & Issues @ Look C Find.com oleh Mas Fatih.






June 8th, 2006 at 2:39 pm
Front Preman Indonesia ? Hehehe… lucu juga !
Dipikir2, apakah bisa dibilang bahwa pemerintah kita sangat “geumpeur” sama para Preman ?
Coba liat aja kasus Taxi Blue Bird di Bandung, ga beda jauh nasibnya sama majalah Playboy.
Punya ijin resmi, semua aspek legal dipenuhi, tapi tetep aja kena “bantai”. Apa coba yang dilakukan sama pemkot Bandung ? Malah nurutin permintaan para preman :-/
Kalo Halimah dan anak2 merusak rumah istri muda suaminya trus sampe diperiksa sama polisi dan kena ancaman hukuman penjara, lha kalo yang merusak beberapa tempat/rumah kok ga diapa-apain yaaaaah…?
BTW Playboy sampe mindahin kantornya ke Bali yah karena Ibukota kita tercinta dikepalai oleh para preman, bukan oleh gubernur …
June 8th, 2006 at 2:49 pm
yg gw heran juga adalah sikap sejumlah orang yg hanya menilai dari namanya, bahkan jadi peramal dengan menuduh kalau besok-besok majalah itu bakal nampilin cewek telanjang.
dugaan gw sih ini semua adalah bentuk persaingan bisnis.
June 8th, 2006 at 2:55 pm
#thya:kepala daerah jakarta sepertinya takut sama preman :p.
Ditoko buku jalanan susah dapet majalah ini
, padahal penasaran mau liat isinya.
Anyway bisa liat bagian yang halaman kosong iklan?
.
June 8th, 2006 at 3:14 pm
Setuju ren!! mbok ya kalo sweeping majalah pornografi jangan pilih kasih begitu.. Jelas2 playboy indonesia yang tidak ada vulgarnya malah dihujat habis2an.. sedangkan majalah lain seperti FHM masih merajalela dengan bebas.. Bingung…
June 8th, 2006 at 3:14 pm
bikin softcopynya ren, upload!! bwihihihi
June 8th, 2006 at 3:16 pm
yah namanya juga orang jual majalah lewat popularitas kontroversi yang berkembang :p
mungkin takut kalau bikin majalah baru yang ‘biasa’ ga laku
kl gini kan orang jadi penasaran beli, dan secara sadar atau tidak memberi dukungan buat majalah ini untuk eksis
hmm, kalau tabloid monitor muncul lagi bakal rame juga ga ya? he he tabloid jadul bgt ….
June 8th, 2006 at 3:40 pm
hehehehe gw nonton om farhan selasa lalu dan tau bahwa playboy ada edisi keduanya lagi.. the girl next door-nya.. joanna alexandra kan?
hueee enak yeee… di luar jawa mana ada
June 8th, 2006 at 3:41 pm
Amar Doriane tidak terkenal di google, upload phot2onya dong..
June 8th, 2006 at 4:01 pm
Cieh, majalah kalau 12 kali terbit nggak ada iklan ,bakal rontok dah, kecuali ada yang nyokong.
June 8th, 2006 at 8:16 pm
no 13
lihat aja nanti edisi ke 3
June 8th, 2006 at 10:32 pm
pinjem dong
June 9th, 2006 at 1:30 am
pokoknya kalo nggak ada gambar telanjangnya ya aku nggak beli. hihihii…
June 9th, 2006 at 2:34 am
ada joannaa!?!??! MOK, KIRIMIN HASIL SCAN NYA DDOONNKKK!!!!!
anyway, FPI MEMANG SUXXX…
June 9th, 2006 at 7:39 am
1. Front Premant Indonesia ? mmmmmm
2. “saya terus terang tidak suka dengan cara-cara tidak jantan…”
Tidak jantan? mmmm…kasih contoh yg jantan dong mas? kalau pindah kantor scr tertulis tp tidak secara fisik, masuk gol yg mana ya?
Thanks
June 9th, 2006 at 7:59 am
Hidup FHM.
June 9th, 2006 at 8:00 am
Disini kita melihatnya dengan sebelah mata, content Majalah Kelinci ini di negeri asalnya memang sangat vulgar, tapi kalau penerbit di sini bisa menjaga isinya seperti terbitan I dan II, yakin akan bis memperbaiki nama Majalah itu.
June 9th, 2006 at 9:12 am
awal memang gak berbau porno amat tapi sapa yg tau kelak akan lebih brani karena sudah di setujui oleh masyarakat, kalo sudah gitu apakah penyesalan akan berlaku bro?
kalo besok2 org sudah bosen dg tampilan sekarang ini,pihak PB pasti mengadakan trik pendongkrakan/peningkatan pornografinya setiap edisinya untuk mendapatkan keuntungan yg lebih banyak lagi karena masayarakat telah akrab dg majalah ini.ya mula2 gadis make baju lengkap tapi lama2 gak pake baju. hihihihi how do u think? ah aku yakin kita jg suka yg berbau porno hehehehehe
June 9th, 2006 at 10:19 am
Dasar otak porno ya tetep aja pengennya yang porno
June 9th, 2006 at 11:27 am
#1 ada
#5 ada indikasi kearah sana
#6 itu kan udah saya kasi 1 lembar di postingan ini
#8 scannernya gada euy, rusak
#17 pengerusakan kantor, pengancaman, dll. pindah kantor itu kan haknya semua orang, gw juga kalo ga betah bisa pindah.
#21 huakakakakakakakakakakakakakakakakakak
June 9th, 2006 at 2:28 pm
Saya tetep punya pertanyaan yg sm dgn saat pertama kali Playboy terbit : KENAPA HARUS PAKE NAMA “PLAYBOY”? Jangan terkecoh saudaraku
June 9th, 2006 at 2:36 pm
kenapa jangan playboy ?
A. lama-lama akan jadi makin “terbuka” :
1. menurut asia tech weblog, edisi kedua ini lebih buka-bukaan daripada edisi pertama, padahal
2. playboy sudah kena ancam, gerebek, dipanggil polisi, diserbu kantornya, kabur para pemasang iklannya, jadi
3. coba bayangkan saja sendiri, kalau akhirnya semuanya sudah tenang — kira-kira akan bagaimana isinya ?
B. coba punya anak, lalu anaknya sudah agak gede, dan pada saat itu playboy dijual bahkan oleh asongan di jalanan (ya, kalau mau, kemarin itu saya tinggal beli playboy dari dalam mobil saya)
C. ultimately – apa sih, gunanya playboy ??
June 9th, 2006 at 2:51 pm
Maaf ikutan beropini ya.
Menurut saya orang-orang yang mengelola playboy jelas bukan orang bodoh.Kalo mereka langsung bikin majalah yg vulgar/porno di sini,pasti langsung abis.Tapi pake strategi dong, nanti kalo udah adem ato mungkin kita udah lupa barud eh mereka tunjukan misi yang sebenarnya.So aware…..
Salam
June 9th, 2006 at 6:40 pm
yah..
akhirnya semuanya bakal kembali ke diri masing2..
kliseee…
omong2 pinjem dong
June 10th, 2006 at 9:27 am
kalo udah ga ada unsur pornografinya, berarti kan tinggal di jual di tempat yang terbatas aja kan.
masa iya doriane itu jadi bancol anak smp
)
June 10th, 2006 at 10:56 am
#27 huakakaka… curhat di ?
btw artikel gw dibahas oleh mas Fatih di Global Voices Online
June 10th, 2006 at 3:43 pm
saya juga “tidak” setuju dgn adanya majalah playboy.
Tapi, bila rendy mau ngasih saya 1, aku mau doooonkkkk…. hehehehehe
June 11th, 2006 at 12:06 pm
hiks…pleboy-nya belom nongolin bahan c#$% yang mantab :p
tiarap dulu yak?
June 11th, 2006 at 1:05 pm
Moment PlayBoy ini menarik untuk diperhatikan. Menurut sy ini cuma satu langkah sebelum kita menjadi RPPI : Republik Pornografi dan Pornoaksi Indonesia.
Tapi tetap aja tuh gw gak pernah setuju model FPI.
June 11th, 2006 at 6:55 pm
mari sama2x kita tolak RUU Pornografi & Pornoaksi, karena RUU tsb mengancam naluri kaum adam..lho ?
June 11th, 2006 at 11:28 pm
[...] Majalah tidak akan bisa meraih untung hanya dari jumlah tiras yang terjual. Iklan selalu menjadi andalan pemasukan bagi majalah. Naasnya Playboy, karena mengusung brand yang sudah identik dengan industri porno, menjadikan edisi perdananya diprotes banyak pihak. Akibatnya, di edisi kedua ini, hampir tidak ada produk yang memasang iklan karena “ketakutan” pemasang iklan akan pihak-pihak tertentu. Saat brand Playboy diidentikkan dengan sesuatu yang amoral, para produk pemasang iklan bisa jadi khawatir kalau produk mereka nantinya diidentikkan dengan hal yang serupa. [...]
June 12th, 2006 at 4:29 am
apa yang terlintas saat mulai membacaya? jika wajar2 saja aku bole pinjam?
June 12th, 2006 at 3:13 pm
yang saya bingung, di kampung saya majalah playboy nggak pernah ada… tapi ada juga yang demo. protes untuk sesuatu yang mereka sendiri belum lihat hehehehe…
June 13th, 2006 at 7:16 am
majalah playboy kok kaya majalah femina sih….kalau gt aku jg mau jd modelnya
kalau majalah playboy memerlukan modelll kabarin aku yach…..
June 13th, 2006 at 9:51 am
gw pengen jg agen majalah playboy..kalo ada yg tau alamat redaksinya tolong email kesini ya..thanks…
June 13th, 2006 at 10:29 am
Hidup FHM. Coba kalau Playboy tidak ngotot harus terbit di Indonesia, pasti gak akan mungkin isu pornografi akan marak. Sampai beberapa majalah harus mengurangi kadar materinya. Seharusnya penerbit Playboy sadar dengan resiko ini. Tidak mungkinlah Playboy bisa masuk tanpa kontroversi. Ini negara apa bung… (penuh dengan orang munafik)
Apa artinya “Entertainment for Men” jika memang tidak ada unsur “kesexian” yang selama ini jadi jualan Playboy. Bull shit….
Akhirnya yang menderita kita-kita juga penggemar FHM, Maxim, Popular, ME……. Majalah kita jadi rusak hanya karena masuknya majalah porno yang tidak porno.
June 13th, 2006 at 1:42 pm
thya thya, kamu ibunya para preman ya
June 13th, 2006 at 2:06 pm
Kasian deh loe, play boy dah berhianat sama para setan. play boy ga lagi porno dan itu tandanya playboy dah insap. Meski malu-malu play boy masih nampilin foto wanita pake baju kurang bahan. ga pa pa lah kalo belum sanggup insyaf total ya, bagus bertahap. Tapi boy ente diedisi ketiga bakal ditinggalin para setan! sebab mereka kecewa ma tampilan loe yang…ya mengecewakan para setan!!! teu naon-naonnya? rezeki mah bukan dari play boy aja ya! tan loe pade beli keamrik aja deh, dijamin loe bakal dapet yang loe inginkan. ato ke paga pegi keragunan aja deh! banyak yang telanjang disana he he and dijamin murah ho ho. Buat kru play boy ganti nama aja deh jadi play maker atau playa pleye gitcu lho…kalo ga salah salah satu pimpinannya mualaf ya? jadilah muallaf yang baik mas ya! mangga ah, permiossss buat para setan yang lagi konak. Ngintip orang mandi aja deh biar tungguriwiseun ( bahasa jermannya mata bintitan) hu huy dedeuh.
June 13th, 2006 at 2:16 pm
hey mas yang nulis artikel diatas, jangan ngatain FPI kayak gitu dong… Play Boy berubah karena dia takut sama yang protes. Coba kalo gaada yang protes Play Boy Indonesia bakal sama dengan Play boy amrik. Ga cerdas sampean! bulshit kalo Play Boy ga ada yang protes dia mau merubah tampilannya kayak sekarang. Moalllll… kumaha butekna oge! (Bahasa jepangnya gak percaya) oke mas! siram tuh kepala pake air kulkas biar ente sedikit cerdas. by deean nadat yusuf_getsemani_yahoo.com
June 13th, 2006 at 2:44 pm
hoy mas, mbak windede! sampean jangan bingung, orang kampung sampean itu pada cerdas and pinter. Mereka dah tau bahwa play Boy itu porno! Berarti tandanya mereka dah pernah pergi keamrik ato setidak-tidaknya sering liat diinternet. Ga kayak sampean jarene tinggal dikota…kok ndak tahu play boy nduk. Aku turut prihatin.
June 13th, 2006 at 2:51 pm
setuju, akur…..dhyan!!! Loe pinter and cerdas das das he he