PLN Membodohi Rakyat!
Akhir-akhir ini, kita sering mendengar berita mengenai korban SUTET (Saluran Untuk Tegangan listrik Ekstra Tinggi) yang berunjuk rasa sambil menjahit mulut mereka di televisi. Mereka yang tanahnya dilalui oleh lintasan Kabel Listrik tegangan Tinggi tersebut menuntut ganti rugi atas tanah mereka yang tadinya produktif (maksudnya bisa diinvestasikan, diharapkan setelah beberapa tahun maka harganya akan meningkat jika dijual) menjadi tidak produktif (tidak bisa dijual dengan harga yang sama dengan tanah disekitarnya yang tidak dilalui oleh SUTET). Selain itu pula, mereka banyak yang mengeluh karena khawatir akan terkena radiasi Elektromagnetik.
Tadi Malam, sewaktu saya menonton televisi, saya menyaksikan iklan layanan masyarakat (atau tepatnya iklan pembodohan) dari PLN yang berisikan testimonial dari orang-orang yang (mungkin telah dibayar untuk iklan itu) tinggal dibawah SUTET dan mengakui bahwa mereka selama ini aman-aman saja berada dibawah sana. Padahal hal ini sudah dibahas di Jurnal Teknik Tegangan Tinggi Indonesia, dan banyak media lainnya bahwa tidak aman untuk bermukim dan melakukan kegiatan dibawah SUTET.
Seharusnya Pemerintah & PLN memberikan ganti rugi kepada mereka yang tanahnya dilewati oleh SUTET, karena PLN merupakan perusahaan milik pemerintah yang mencari Profit. Terlebih dengan rencana Pemerintah untuk menaikkan Tarif Dasar Listrik yang mulai diberlakukan mulai 1 Februari besok.
Menurut Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro pada tanggal 23 Mei 2003, Pasal 1 ayat 11,
Ruang Bebas adalah ruang sekeliling Konduktor yang dibentuk oleh jarak bebas minimum sepanjang Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTr), Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), dan Saluran Udara Tegangan Ultra Tinggi yang harus dibebaskan dari benda-benda dan kegiatan lainnya.
Yang berarti bahwa Lintasan SUTET harus dibebaskan dari benda-benda (rumah, tempat tinggal) dan kegiatan lain (sekolah, tempat berbisnis, lapangan bermain, dsb).
Sedang menurut Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar,
“Jika saja pembangunan SUTET sudah terlebih dahulu dilakukan kemudian menyusul pemukiman, tuntutan warga saya nilai tidak wajar”
dan mengenai peraturan lintasan SUTET,
“Peraturan itu ada, kalau sekian derajat dari SUTET kan tidak boleh ada pemukiman. Dengan ketinggian 100 meter kalau tidak salah 45 derajat ke kanan dan ke kiri”
Untungnya ada pernyataan dari Sang Menteri yang amat melegakan,
jika pembangunan SUTET tersebut dibangun menyusul setelah dibangunnya perumahan maka kompensasi harus diberikan.
Tetapi ada pernyataan dari menteri yang bisa dianggap kurang masuk diakal
Rachmat mengatakan sejak dahulu memang permasalahan ini sudah ada karena ketika SUTET telah dibangun di suatu tempat, kemudian ternyata ada yang membangun pemukiman di dalamnya. “Itu merupakan pelanggaran”, ujarnya.
Ah, ini hanya alasan saja Pak Menteri, Ga punya Uang Untuk mengganti ? masak melewati tanah milik orang lain tidak mau membayar ? Jika SUTET terlebih dahulu dibangun & kabelnya melewati tanah milik orang lain, seharusnya diganti, karena hal itu merugikan orang lain.
Atau Memang sebetulnya ada uang pengganti tetapi malah Dikorupsi ? Yang saya lihat dilapangan, anak-anak dari petinggi di PLN kalau makan kebanyakan di Kafe dan mobilnya bagus-bagus.
Percuma berdebat dengan orang bodoh, kroco-kroco dari orang Zalim!
Hai Pak Menteri, Bolehkah saya menagih Janjimu ? Jangan ikut-ikutan Membodohi Rakyat!
Update: setelah diperiksa ulang, bahwa 60% dari pemberi komentar disini adalah orang PLN yang menyaru dengan berbagai nickname, dan kemungkinan besar adalah orang yang sama
karena sudah mulai kearah kemarahan pengunjung, postingan ini akan ditutup komentarnya , tentu saja yang harus dibela adalah orang-orang yang ditindas karena tempatnya dilalui sutet. Salam buat orang PLN yang stress sampai menulis berkali kali disini dengan nama yang berbeda.






January 30th, 2006 at 1:44 pm
pErtama
January 30th, 2006 at 1:55 pm
kedua?
percuma sih kalo mo diomongin
mereka2 itu udah ga punya hati nurani
January 30th, 2006 at 2:13 pm
saya sutet kamu nanti! hihihihihi
January 30th, 2006 at 2:37 pm
ADUH FONT NYA DIGEDEIN NAPAH! TERNYATA SUTET ITU GITU TOH. EMANG SIAPA SIH LO!
*satu dua eksyen*
January 30th, 2006 at 2:53 pm
#2 mungkin bukan manusia ?
#4 udah gw ganti MOK!
January 30th, 2006 at 3:31 pm
Pengen banget liat direksi PLN yang sekarang dan 3-4 angkatan sebelumnya di gantung di Lapangan Monas buat peringatan bagi yang lain x-(
January 30th, 2006 at 3:39 pm
Tidak mungkin kalo PLN (BUMN terbesar dengan 13juta lebih pelanggan) tidak ada dana kompensasi.
Misalnya saja, pendapatan dari denda saja (yang bisa 2500, 5000, 7500 untuk R1 Rumahan) perhari, bisa mencapai 400juta. Belum denda untuk pabrik besar.
Itu baru denda saja. Belum tagihan pokoknya.
Kalo memang ada good will, sumber dana bisa diambil dari sana. Itu ga akan mempengaruhi laporan pendapatan mereka. (Denda itu tidak terhitung Account Receivable
)
Gw tahu, dulu gw pernah ‘pegang’ CRM-nya.
Gw sepakat ama lo, Ren. Ga semestinya beri iklan counterfeit seperti itu. Chicken.
January 30th, 2006 at 4:50 pm
#7 gw tadi baca di milis, ternyata PLN hanya mau membayar ganti rugi tanah sebesar Rp.7500 per meter persegi. Hal itu tidaklah sebanding jika dibandingkan harga jual normal. Pada kenyataannnya PLN tidak mau membayar hal tersebut.
January 30th, 2006 at 5:02 pm
pln who ?
January 30th, 2006 at 5:16 pm
Saya penggemar main layangan.
Jadi SUTET adalah BERBAHAYA bagi hidup saya!!!
January 30th, 2006 at 9:46 pm
Pendemo mulutnya dijahit..
Jelas aja pemerintah gag dengar protes-protes seperti itu, Lha wong telinga mereka juga dijahit kok.
January 31st, 2006 at 5:06 am
mas markum : mau hurufnya gede? makanya pake FireFox.. gemana seh?? :p
PLN memang kacrut
January 31st, 2006 at 10:20 am
siapapun yg jadi menteri, mikirnya gini lho:
* masalah yg sekarang adalah warisan menteri yg dulu
* yang menyelesaikan harslah menteri yang akan datang
January 31st, 2006 at 1:10 pm
Kalo kata gw sih PLN sama rakyatnya dua – duanya geblek. Itu sebagian pemukiman yang dibangun di bawah SUTET muncul setelah SUTETnya dibangun. Ga bisa minta ganti rugi dong, orang mereka sendiri yang cari penyakit.
Dan emang bener, SUTET itu menimbulkan radiasi akibat listrik tekanan tinggi. Ayo laporin ke YLKI biar ada clash action!
January 31st, 2006 at 1:18 pm
#14 yang bermasalah karena ia lewat tanah rakyat, terlepas itu siapa duluan yang membangun. seharusnya PLN memang mengganti tanah tersebut, karena telah menurunkan daya pakai / jual dari tanah tersebut.
soal radiasi tegangan tinggi, orang indonesia lebih baik dibayar 100 ribu untuk masuk tivi dan menipu daripada lapor ke YLKI, karena YLKI juga tidak bisa berbuat banyak.
February 1st, 2006 at 8:46 am
loh.. bukannya RAKYAT memang BODOH??? mengapa timbul kata – kata MEMBODOHI??
*cuwek*
February 1st, 2006 at 10:58 pm
Bapak2 PLN, you dont value human life..
February 2nd, 2006 at 10:40 am
ngga bakalan ngasih komentar soal gimana SUTET itu tadi. cuman, agak kesel aja ngeliat aksi mogok makan (jahit bibir) yang dilakuin oleh beberapa orang yang ngakunya “korban SUTET”. kayaknya yang kayak gitu ngga perlu dikasih simpati deh. apalagi ampe kayak yang dilakuin beberapa orang, bacain doa, salawat, etc. yang kayak gitu tuh perbuatan SETAN. toh, agama mana sih ngajarin buat nyakitin diri sendiri. setau aku, di agama yang aku anut, nykitin diri sendiri tuh hukumnya haram!
February 3rd, 2006 at 12:27 pm
Hai Ren…lam kenal
Di sini warga dapat ganti rugi gede lho!!!malah sampe ada yg bisa beli rumah bagus di kota. Intinya better life buat mereka after tanah mereka di ganti-rugi. SUTET di sini jg gk nyampe rame ky di berita2.
Gw berada di PLTU project (North oh Java) TJB-Site Coal Fired Power Station 2×660 MW
February 6th, 2006 at 1:44 pm
#19 wajar lah cerita yang manis2… kamu kan orang PLN…. :p
sayangnya ga semua orang seperti yang diceritakan… kebanyakan sengsara!
February 7th, 2006 at 9:00 am
PLN mau enaknya sendiri………..
February 8th, 2006 at 4:51 pm
gimana dari sisi orang-orang akademis sendiri? kebanyakan hanya angkat bicara secara teknis empiris atau hanya kasih komentar bahwa hal tersebut berakibat fatal. saya sendiri pada tahun 1999-2000 mengadakan penelitian tentang akibat paparan medan elektromagnetik arus bolak-balik dan arus searah dengan obyek telur ayam dan anak tikus, dan hasilnya sangat mengerikan. Bisakah kita bukan sekedar bicara saja, tetapi turut serta mencoba memaparkan secara langsung hasil atau akibatnya?
PLN? bukankah mereka juga masyarakat Indonesia? yang membedakan hanya saja mereka berada di lingkungan kekuasaan, dan bagi kita yang di luarnya tentu lebih memiliki power untuk melakukan sesuatu…
February 9th, 2006 at 1:46 pm
Ndak PLN, Ndak TELKOM, Ndak PERTAMINA, semuanya UUD(Ujung Ujungnya Duit)
Dan Parahnya ndak ada Kemauan menjadi LEBIH BAIK DAN BIJAK
*menjadi baik dan bijak udah BASI!!!
Indonesia what happen with you goverment!!!
February 11th, 2006 at 12:12 pm
Pasrah aja deh…
Lagian, gw belum pernah ngerasain bayar PLN.. hihihi…
February 14th, 2006 at 4:19 pm
ren… seharusnya berterimakasihlah pada institusi semacam ini….
minimal mereka mempercepat proses pembusukan negeri ini hingga nanti begitu udah busuk total… semoga kehidupan lebih baik terbentuk
terimakasih PLN, TELKOM, PERTAMINA, GOVERMENT..percepatlah proses kebusukan di negeri ini… so we can make revolution…
February 14th, 2006 at 10:57 pm
Masa sih? Soalnya katanya rugi mulu tiap tahun